Masyarakat Barsel Belum Merdeka Dari Penjajahan Para Begal Pelansir
Masyarakat Barsel Belum Merdeka Dari Para Pelansir Begal BBM pertalite Bersubsidi Untuk Memperoleh Pertalite maupun Gas Melon Bersubsidi dari mereka yang sibuk memperkaya diri harus berperang dengan waktu, cuaca panas dan rasa di jajah oleh sesama hampir setengah hari.
Buntok, elang barito.com.
Bukan hanya di aceh atau tanah papua saja yang masyarakat nya ingin merdeka, tapi kota buntok pun sama ingin mardeka dari penjajah para pelansir begal bbm pertalite bersubsidi, yang selalu menguasai pertalite bersubsidi di spbu tanpa Jeda seakan mereka kebal hukum dan tidak tersentuh hukum, walau memperlakukan bbm bersubsidi menjadi harga industri (Rp 17.000,- bisa lebih/perliter pertalite) semaunya dan seenaknya untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain, walau meski mengangkangi hukum terang amang dady kecewa dan merasakan negara belum bisa memberi rasa merdeka itu, walau sudah HUT RI ke 81 ungkapnya kecewa.
Kenapa Negara koq meski kalah dengan para penjajah dan begal pertalite bbm bersubsidi oleh para pelansir yang melawan hukum positif.
Ada apa koq negara tutup mata !!!
Tambah amang parah
Sekian bulan ini sudah warga buntok menderita karena tidak bisa memperoleh pertalite bbm bersubsidi dari spbu lantaran di kuasai oleh para begal pelansir yang mengular sampai ke Jalan Karau Jalan Agung ungkap ibu-ibu sangat gusar melihat kondisi yang tiada kondusif dan semena nena.
toqh bbm pertalite tetap juga di jual sangat mahal jelasnya lagi.
Beli di warung warung mahal sampai seharga Rp.17000/liter Pertalite, beli bbm bersubsidi di SPBU penuh dan di kuasai oleh para begal pelansir, lalu kemana bbm mereka yang di beliinnya tiap hari itu dari 3 (tiga) spbu, sementara tidak juga menurunkan harga eceran di warung warung kecil di pinggir jalan jelas nunun nama buatan redaksi seorang warga jalan karau mengeluhkan pedihnya di jajah oleh para pegal para pelansir gumam nunun.
Para begal pelansir yang menggunakan mobil dapat 30 liter permobil, namun parahnya mereka bawa juga sepeda motor (matic) sampai tiga sepeda motor lagi sekaligus oerdopir mobil, bahkan ada yang enam (6) unit sepeda motor perorang ungkap ulvah (gadis pelansir nama sapaan redaksi) yang bareng suami jadi begal pelansir di SPBU yang juga tidak mau kalah sudah bawa nmax merah juga bawa scoopy lagi ungkap nunun menonjok temannya kepeda penulis bahwa itulah kondisi riil di spbu dalam membegali minyak pertalite bersubsidi tanpa ampun dan tanpa solusif menyakitkan.
Senin 17.08.2026 saat problema itu di sampaikan kepada polres barito selatan bahwa masyarakat barsel belum merdeka walau sudah di proklamirkan sejak 81 tahun silam. Namun untuk memperoleh bbm bersubsidi pertalite dari spbu tentulah tidak mudah harus menunggu sangat lama dan mampu melewati para penjajah, para begal pelansir yang sudah menguasai spbu tanpa tindakan nyata dan legal dari para penegak hukum berkompetensi, sehingga mereka para begal pelansir bbm bersubsidi lebih sumbringah dan besar kepala jelas seorang aktivis dari lsm senator2000 yang biasa di sapa amang dady dari sekretariat guzung zharram penuh keprihatinan dan pesimistis dalam balutan kejecewaan.
Walaupun ini momentum HUT RI ke 81 namun masyarakat belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya lanjut amang dady dalam kekecewaan beratnya.
Dengan momentum HUT Proklamasi ini, Maka “dalam waktu singkat akan kami tindak tegas” apalagi yang berlebih ungkap polres lewat kasat reskrimnya AKP Rahmat Tuah, SH., M.Hum (asli dari putra daerah barsel) berjanji “tegas” dan menutupi.
(Tim elang barito barsel)












